“Fear has to be the opposite of God because it is the opposite of love. Fear is selfish, needy and focused on you. It makes no sense for God to want you in fear about Him or your life. It comes down to this: either God wants you to live in fear of Him, always afraid you aren’t good enough and focused on yourself, or He wants you to live in love, knowing you are safe, and focused on loving other people. Which feels more accurate to you?” ― Kimberly Giles, Choosing Clarity: The Path to Fearlessness
...jadi ketaatan itu karena diawasi dan takut kena hukuman, kalau nggak ada yang mengawasi bubar. Saya rasa akan berbeda kejadiannya jika ketaatan itu muncul karena kesadaran diri, '...gue pake helm soalnya kepala gue berharga.' Mau ada polisi, mau tidak, tetap saja pakai..
Beberapa waktu yang lalu, saat sedang mengantre dokter gigi, saya melihat sebuah tayangan religi di televisi, yang isinya kurang lebih tentang manusia zholim, yang kemudian mendapat hukuman sakit kulit parah. Well, sepertinya semua tayangan religi yang ada di TV inti ceritanya seperti ini semua kali ya? Yang membedakan cuma hukuman yang diterima oleh manusia-manusia antagonis saja; bisa kelelep, lumpuh, buta, terbakar, tidak bisa dikubur dan lain-lain. Sementara sang tokoh protagonis yang cenderung naif hidup berbahagia.Terus terang cara menyampaikan ajaran agama (apa pun) dengan 'menakut-nakuti' ini seperti ini tidak pernah gagal membuat saya mengernyit dan bertanya-tanya : apakah memang agar umat menaati perintah yang ada di agamanya harus diancam dengan kemarahan Tuhan? Apakah menganut agama itu harus dengan penuh ketakutan?
Saya kemudian menganalogikan 'aturan' agama ini bagaikan peraturan lalu lintas; misal perkara memakai helm. Bahwa memakai helm ini sebenarnya untuk keselamatan diri sendiri, karena aspal itu lebih keras daripada kepala manusia, Jendral. Namun dalam peraturan ini, kita semua tahu ada hukuman bila kita tidak menaatinya, yaitu kena tilang. Sejauh ini efektif, orang-orang memakai helm saat berkendara dengan roda dua, tentu saja karena takut harus membayar sejumlah uang saat ketangkep polisi lalu lintas. Tapi apa yang terjadi saat tidak ada polisi yang mengawasi? Helm dibuka. Beberapa kali saya melihat orang-orang yang saya kenal malas memakai helm karena 'cuma' mau pergi ke warung atau minimarket kompleks rumah. 'Ah dekat kok, nggak ada polisi' kata mereka. Duh, seolah-olah karena jaraknya dekat maka jalan akan berubah selembut peyeum.
Iya, jadi ketaatan itu karena diawasi dan takut kena hukuman, kalau nggak ada yang mengawasi bubar. Saya rasa akan berbeda kejadiannya jika ketaatan itu muncul karena kesadaran diri, gue pake helm soalnya kepala gue berharga. Mau ada polisi, mau tidak, tetap saja pakai.