Laman

Tampilkan postingan dengan label Curhat Instastory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat Instastory. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 01, 2018

Mengurus Anak Tanpa dan Dengan Bantuan : Pros & Cons

 The reason child care is such a loaded issue is that when we talk about it, we are always tacitly talking about motherhood. And when we're talking about motherhood we're always tacitly assuming that child care must be a very dim second to full-time mother care. - Anna Quindlen

....mengasuh sendiri, dengan bantuan nanny, atau dimasukan ke daycare, mana yang paling benar dan paling salah? Nggak ada. Yang ada itu yang paling cocok dengan kondisi keluarga.
"Wah ngurus anak sendiri ya? Emang paling bener tuh ngurus anak sendiri deh, nggak usah pake nanny atau masukin daycare segala." ujar seorang kerabat di salah satu sesi mengobrol basa-basi.

Ya, untuk masalah mengurus anak, sebagian besar saya dan partner lakukan secara mandiri. Ini komitmen kami berdua sejak awal.

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan kebingungan; gimana caranya tetap ngurus anak sendiri, sementara saya dan partner sama-sama bekerja? Yang dipertanyakan tentunya, dengan siapa si anak, kalau kami kerja?

Mungkin harus dijelaskan kondisinya. Jadi, waktu kerja saya dan partner memungkinkan kami untuk bergantian menjaga. Saat saya mengajar, partner yang menjaga anak. Sebaliknya, saat partner ada klien, saya yang stand by. Aselik, di saat jadwal sama-sama padat, sudah kayak aplusan pekerja pabrik deh. Saya pulang, dia pergi. Dia pulang saya pergi :))

Saya bilang 'sebagian besar' ya. Jadi tentyu saja masih ada bantuan pihak lain, modyar aja kalau enggak. Biasanya pihak yang suka ketiban pulung dimintain tolong adalah orangtua saya atau mertua. Ini kondisinya kalau kebetulan saya harus mengajar dan dia ada klien. Atau ketika salah satu harus kerja, yang satunya lagi nggak fit atau kecapekan banget.

Balik lagi, untuk yang suka bilang 'Memang yang paling bener ngurus anak full sendiri!', rasanya saya pengin bilang 'Ah macaciy?'.

Satu sisi, iya, saya merasa ada positifnya mengurus anak sendiri. Tapi, kalau dari yang saya rasakan, mengurus anak sendiri itu juga nggak segitunya paling bener deh, apa lagi kalau saya sedang capek fisik dan mental. Bawaannya ngomel melele. Paling bener dari mana coba kalau begitu?

Beberapa kali saya ingin memasukkan anak saya ke day care, tapi ragu.

Iseng saya mengangkat topik ini di Instastory. Saya pengin lihat pandangan ibu-ibu tentang positif dan negatifnya mengasuh anak sendiri, dibantu oleh nanny/ART, dibantu oleh ortu/mertua dan dimasukan ke daycare.Yang respons banyak biyanget.

Saya bahas satu-satu ya. Catatan penting, semua ini adalah hasil curhat buibuk di Instagram ya. Untuk part yang ngurus anak sendiri, saya gabungkan dengan pengalaman saya. Jadi bukan asumsi saya doang.
Oke, kita bahas duluan PROS and CONS ngurus anak sendiri yes?


PROS
1. Kendali pola dan metode asuh sepenuhnya ada di tangan orangtua. minim intervensi dan konflik. Orangtua bisa bersikap anak aing, kumaha aing. (anak saya gimana saya)

Untuk kasus saya : mau pola asuh yang lintas batas gender, ya bisa. Mau minim screen time, ya bisa (tapi kalau kemudian berubah pikiran, dan ngasih lihat Youtube karena capek, ya bisa juga. Bebas, gimana saya.)




Kayaknya sih, sebelum punya anak itu waktu yang paling tepat untuk bercita-cita ideal soal parenting, karena begitu punya anak... bubar! Bye bye segala teori. . Sebelum #Lilo lahir, #Mamamo bercita-cita untuk menerapkan aturan no gadget, dan yes to aktivitas motorik non gadget dan sosialisasi. Tapi, realitasnya, ngikutin gerak Lilo kemana pun dia pergi itu capek, Buibuk~! Motherhood berubah jadi #modyarhood pokoknya sih. . Akhirnya Mamamo pun mulai ngasih Lilo gadget. Dia diizinin nonton beberapa tayangan yang ramah anak di Youtube. . Tapi tetep juga nggak dilepas gitu aja, sik. Karena sistem algoritma Youtube bisa bikin tayangan berpindah ke macam-macam video dan bukan nggak mungkin bisa berakhir ke video yang nggak layak tonton anak. Nggak mau kan anak kita tiba-tiba kesasar ke video Elsa dan Spiderman yang bermesraan? Terus Mamamo ngerasa, ada tayangan-tayangan yang bikin Lilo terhipnotis, kayak tayangan surprised eggs gitu. . Karena itu, sebelum ngasih Lilo nonton, Mamamo sudah memilih tayangan (dan tonton duluan) sampai habis, lalu download. Jadi ketika Lilo nonton, dia nggak nonton online. Mobile data dan wifi pun Mamamo matikan. Gitu, jadi Lilo anteng nonton, Mamamo bisa nemenin sambil selonjoran sejenak. Semua pun senang. . BTW, buibuk punya kebijakan apa buat anak dalam pemakaian gadget? Share yuk! . . #Parentalk #MillennialParenting #Parentalkxmamamolilo
A post shared by Mamamo & Lilo (@mamamolilo) on

2. Bonding dengan anak sangat tinggi.
Yaiyalah, sudah pasti orang yang paling dekat dengan anak ya orangtua, orang paling besar ngapa-ngapain sama orangtuanya.

Lilo, nih, kalau lagi sedih cari saya atau bapaknya, gembira cari saya atau bapaknya, excited pun demikian. Marah? Kzl? Saya dan partner deh yang diomel-omelin.

3. Minim rasa waswas, karena si anak kan ada di bawah pengawasan orangtuanya.
Pun ketika saya harus kerja dan Lilo ditinggal bersama bapaknya, saya tetap merasa Lilo berada di tangan yang benar. Walau pun baju nggak matching dan agak acem karena mandi seadanya. :))))

4. Nggak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk meng-hire pengasuh.

CONS
1. CAPEK!  
Yes, kalau intensif mengurus anak sendiri itu capek fisik dan mental. Selain capek harus ikut lompat kodok, main petak umpet, ngejar sepeda dan lain sebagainya, juga capek ngadepin emotional meltdowns, tantrum, kekhawatiran akan masa depan, rasa bersalah dan semua-semuanya. Campur aduk. Efeknya apa coba? Iya, kadang anak nggak ter-stimulasi dengan konsisten dan variatif. Kalau saya sih, cuma didongengin, diajak ngobrol, diajak lelarian, diajak eksplorasi ke tempat-tempat baru. Pokoknya stimulasinya yang nggak membutuhkan persiapan terlalu printilan, plus nggak juga perlu beberes terlalu heboh. Padahal saya sudah beli berbagai macam buku yang isinya macam-macam aktivitas untuk menstimulasi anak, tapi ya.... males. Capek.
2. Susah me-time.
Ya gimana mau me-time, kalau anak nempel terus, ke toilet aja dicariin. (Untunglah saya bekerja, jadi bisa menghela napas sedikit. Jadi me-time saya dan partner itu saat kerja).
3. Susah our time.
Karena terlalu terbiasa bersama dengan orangtuanya (baik salah satu, atau dua-duanya), anak biasanya  insecured kalau dua-duanya menampilkan gelagat mau pergi berduaan doang. Kalo Lilo ngeliat saya dan partner kayak mau pergi, beuh, langsung deh, nenen nggak kelar-kelar.
4. Pergaulannya sempit.
Mainnya cuma sama orangtuanya lagi, orangtuanya lagi. Kalau saya sih ada tiga anak tetangga yang suka main juga. Mayan, lah ya? :))


PROS and CONS mengasuh anak dengan bantuan ART/Nanny

PROS
1. Lebih nggak capek fisik dan ibu bisa 'menghela napas' karena nggak semua hal yang berhubungan dengan anak, dari bangun tidur sampai tidur lagi, harus dilakukan sendiri.
2. Bisa me-time, anak tinggal titip ke pengasuhnya. Me-time adalah koentji kewarasan para ibu.
3. Anak bisa ketemu orang lain, selain orangtua

CONS
1. Pola dan metode asuh suka berbeda, kudu bisa kompromi. 
 Ketika orangtua punya idealisme sendiri, belum tentu pengasuh bakal ngikutin. Kalau dari contoh yang di-share oleh buibuk di sesi Instacurhat sih, dia nggak ingin anak dibatasi atau dilarang-larang, sementara sang pengasuh takut anaknya jatuh dan dimarahi sang majikan.
2. Nanny terutama yang non-profesional/ART seringnya hanya menjaga, tidak menstimulasi anak, sehingga perkembangan anak bisa terlambat.
3. Jika nanny/ART yang mengasuh punya kebiasaan yang bagi kita buruk dan dibawa saat mengasuh, bisa-bisa anak kita terpengaruh. Contoh yang diberikan di Instacurhat : pengasuh doyan nonton shitnetron dan film azab-azaban, sehingga si anak doyan juga.
4. Harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengasuh anak. Semakin pro nanny yang di-hire, ya semakin dalam rogoh kantong, 

PROS and CONS mengasuh anak dibantu orangtua/mertua

PROS
1. Diasuh dengan penuh kasih sayang, segala kebutuhannya pasti dipenuhi.
2. Bisa mendekatkan/mempererat hubungan anak dengan kakek-neneknya.
3. Bikin happy orangtua/mertua di hari tuanya.
4. Bisa konsultasi (atau minimal melihat perspektif lain) pola pengasuhan, cara penanganan kondisi sakit atau apa pun berdasarkan pengalaman mereka punya anak.
5. Tidak usah mengeluarkan uang banyak-banyak (tapi ya tau diri aja sik. HAHA)

CONS
1. Buat ortu kekinian, yang ikrib dengan buku-buku parenting pasti bakal punya idealisme sendiri, kadang suka berbeda dengan pola asuh mertua/ortu. Seringnya menimbulkan konflik yang malah merenggangkan hubungan kita dengan orangtua kita.
2. Kakek-nenek sering terlalu memanjakan/kontrol disiplin rendah.
3. Kalau keseringan/kelamaan, kakek dan nenek bisa capek dan sebel juga.

Sebenarnya saya punya pengalaman sendiri soal mengasuh anak dibantu orangtua dan mertua. Iya, saat itu konflik heboh, namun konflik-konflik tersebut ujung-ujungnya membuka komunikasi antar pihak saya dan mereka. Sehingga sekarang, pola asuh saya dan mereka sangat sejalan. Tapi ini akan saya pisah jadi satu posting tersendiri.

PROS and CONS menitipkan anak ke day care.

PROS
1. Anak terstimulasi dengan baik, konsisten, dengan metode variatif sesuai buku-buku pendidikan anak (tanpa orangtua harus riweuh persiapan. HAHA)
2. Anak belajar sosialisasi dengan teman-temannya.
3. Anak jadi mandiri.

CONS
1. Anak gampang ketularan penyakit dari teman-temannya.
2. Akan ada peristiwa anak benjut atau luka karena jatuh atau berantem dengan temannya.
3. Anak meng-copy dari pergaulan. Kalau ada teman yang suka ngomong kasar, anak ikutan.

Sejujurnya sharing di Instacurhat ini, cukup membuka mata saya, bahwa mengasuh sendiri, dengan bantuan nanny, dengan bantuan orangtua, atau dimasukan ke daycare masing-masing ada kekurang dan kelebihannya. Nggak ada satu pun yang 'paling benar', yang ada itu yang paling cocok atau pas  dengan kondisi keluarga.

Dan sharing ini juga bisa membuat saya menguji keputusan saya dan membuat saya semakin yakin, bahwa setidaknya untuk sekarang, yang paling tepat ya memang mengasuh sendiri. Yaiyalah, waktu bekerja sama-sama fleksibel, masing-masing masih bisa juga punya me-time sehingga nggak burnt-out, punya idealisme (yang cukup kenceng) soal pola asuh sendiri, nggak percayaan sama orang lain yang bukan orangtua kandung kami. Buat apa ngeluarin duit lebih, kalau kondisinya memungkinkan untuk mengasuh sendiri? Ye kan?

Mungkin buibuk yang berencana punya anak, melalui posting ini, bisa melihat juga, mana yang paling cocok.

:)

Selasa, Juli 24, 2018

Tayangan (Youtube) Ramah Anak Rekomendasi Ibu-ibu Instagram (dan Tips Menonton)

“It’s important there is balance in the online and offline worlds and in leisure and learning, but what that looks like for different kids at different ages and in different families is hard to ‘prescribe’. Research shows that not having access to the digital world has a negative impact on kids – so its about finding the right amount with a holistic approach.” The Guardian.


...Jangan ditinggal, temani saat menonton. Artinya, nonton itu nggak bisa dipakai jadi alat supaya anak anteng sementara kita melakukan pekerjaan lain. Ya tapi lumayan, lah, bisa istirahat dikit.
PENTING : Tolong dibaca sampai akhir, saya memuat video Tedtalk tentang sisi gelap video Youtube.

Yang namanya parenting, ekspektasi dan realitas kadang nggak sejalan dong ya? Boleh lah sewaktu belum punya anak kita menetapkan standar pola asuh sedemikian tingginya; tapi saat pelaksanaannya, ternyata situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Pengin anak pakai clodi supaya ramah lingkungan, eh kok ya, cucian jadi banyak, misalnya. HAHA. Ini saya banget

BACA : ORANGTUA IDEAL ITU CUMA HOAX

Yang lain lagi, saya dan partner pengin menghindari anak terpapar TV dan gadget sampai 5 tahun. Kami pengin anak kami banyak melakukan aktivitas motorik dan sosialisasi dengan lingkungan, No cellphone, no TV.

GAYA!

Kenyataannya? Kami insyaf, keinginan ini terlalu muluk. Tanpa TV dan gadget berarti kami harus full dan intensif banget menemani Lilo; dan ternyata hal ini capek banget! Apalagi saat Lilo semakin lama semakin besar, makin bisa lari-larian, makin banyak tanya. Modyaro. Akhirnya mulailah sedikit-sedikit kami menggunakan gadget, dia nonton Youtube, kami meluruskan kaki di sebelahnya.


Mana lagi kami kan hidup tanpa ART yak, jadi selain bergantian ngurusin anak, kami pun kudu mikirin pekerjaan rumah tangga. Gadget adalah salah satu hal yang mudah untuk bikin anak anteng sejenak, sementara kami cuci piring, misalnya.

BACA : PEKERJAAN DOMESTIK : SEPELE TAPI BIKIN SENEWEN

Jadi sejak under 1 tahun Lilo sudah terpapar TV dan gadget sih, walau tetap kami batasi dan awasi. Nah berikut ada tayangan-tayangan favoritnya Lilo, yang saya pikir relatif aman buat anak.

1. Upin dan Ipin.

IYA! Standar! Lilo mengenal Upin dan Ipin melalui TV waktu kami masih nebeng di rumah mertua. Setelah itu, sampai sekarang dia tergila-gila. Dulu sih, sebelum punya anak, saya agak males ya, buat saya secara tampilan, ya nggak menarik hati, dan tambah males karena viral banget, sampai ke mana mata menoleh, di situ ada merchandise Upin dan Ipin.

Tapi setelah ikut nonton, kok saya jadi suka juga...

HAHA. This is the true definition of : dipoyok, dilebok. #SundaDetected.

Ceritanya bersahaja banget, dan anak-anak kampung banget. Somehow mengingatkan saya pada serial Unyil. Ini salah satu episode favorit Lilo : Kembara Dino



Yang bikin agak sebel, kadang-kadang Lilo suka ngomong dengan dialek Melayu gitu. Ih.

Sebenarnya ada satu serial lagi yang Lilo suka, tapi saya enggak! Yaitu serial Adit Sopo Jarwo. Tapi saya enggak sukaaaa! Jadi saya berusaha keras menghalangi dia menonton serial ini. Muahaha, maafkan kalau jadinya terkesan tidak menghargai plotuk-plotuk indonesia.

Kenapa nggak suka? Karena terlalu sinetron-ish. Permasalahan yang diangkat semacam permasalahan sosial yang buat saya terlalu berat buat anak-anak, terus saya nggak suka ada tokoh Pak Haji, yang sebagaimana layaknya sinetron, bisa menyelesaikan semua konflik.

2. Nursery Rhymes di ABC Kids TV

Ini isinya lagu-lagu nursery rhymes bahasa Inggris gitu sih, standar, visualnya keren, animasi 3D gitu. Lilo selalu terpaku banget kalau nonton. Nah, karena saya dan partner selalu ikut nonton, lagu-lagu nursery rhymes itu suka jadi earworm, bikin kami ujug-ujug bersenandung. Nah, kagetnya, Lilo suka nimpalin/nimbrung. Mayan, lah, belajar bahasa Inggris sikit-sikit.

Saya :
Five little monkeys jumping on the bed
One fell off and bumped his head
Mama called the doctor
And the doctor said

Lilo (mendadak nimbrung):
No more monkeys jumping on the bed

  

3. Tayangan Belajar Warna di channel EZ Kids

Ada beberapa tayangan belajar warna, yang buat saya secara visual dan narasi itu nggak oke (ini selera individual kali ya?).

Tapi Lilo suka. *Sigh*.

Yang kayak gini, lho :



Tayangan sejenis ini relatif aman sih, belajar warna. Kosa kata warna Lilo dalam bahasa Inggris bertambah. Sedikit rada membosankan (again, buat saya), karena ya gitu-gitu aja, cuma beda objek. Cuma, yang harus diperhatikan, ada tayangan sejenis yang kadang-kadang menyelipkan produk berupa mainan semacam slime, atau permen. Bae-bae, anak kita minta ntar. Haha.


4. Elmo Sing A Long.

Sesame street mah standar yaaa? Lagu-lagu anak di Elmo Sing Along itu bagus-bagus dan ada yang dinyanyikan kolaborasi dengan selebritas, dari Usher, Adam Sandler, Jason Mraz, India Arie. HAHAHA, ketauan ini yang demen mak dan bapaknya! Untung Lilonya suka juga.

Yang bareng Adam Sandler lucuk!





Yang rutin ditonton itu doang sih, sisanya random. Lilo kan kami biasakan untuk baca buku, salah sekian buku yang dia suka itu tentang binatang-binatang. Jadi begitu liat satu binatang di bukunya, kadang dia pengin liat binatang tersebut kalau gerak kayak gimana.

 Nah kemarin, di Instastory, saya meminta buibuk Instagram buat ngasih rekomendasi lain, sudah saya cobain beberapa supaya Lilo lihat, ada beberapa yang dia nggak demen, jadi nggak bisa saya komentarin lagi, karena nontonnya cuma sekali doang. Ada yang belum sempat saya tonton juga. Cuma mungkin buibuk lain butuh alternatif tontonan yes.

1. Channel Pinkfong (rekomendasi http://www.instagram.com/syilarsyila_cila)

Katanya : Bahasa Inggrisnya gampang diingat, kartunnya menarik.



BTW, ternyata Pinkfong ada apps-nya. Bagus tuh, buat yang nggak kepengin anaknya nonton di Youtube, karena takut terpapar video yang enggak-enggak.

2. Channel SuperSimpleSongs (rekomendasi http://www.instagram.com/iisumarni)

Katanya : "Ada beberapa hal yang bisa diajarin lewat video-video di channel ini, kayak ngenalin soal empati ke anak disabled di salah satu video. "

 

3. Channel balitakita (rekomendasi http://www.instagram.com/theaiuu)

Katanya : "Lagunya lokal, gambarnya gemesin"

Saya pernah lihat sih, yang lagu Cicak, tapi barusan saya search 'balitakita' nggak muncul video yang dimaksud. Apakah mereka sudah ganti nama jadi Lagu Anak Indonesia Balita?


4. Channel Ryan Toys Review (rekomendasi http://www.instagram.com/an_tania_)

Katanya : "Dia orang Canada kayaknya, kalau bikin cerita masih bisa diterima (nggak main kekerasan), banyak belajar/iseng-iseng nyoba science juga."




5. Channel Blippi (rekomendasi http://www.instagram.com/rahma_deama)

Katanya : "PLUS-nya : ngajarin hal-hal basic kayak warna, bentuk, vehicle, mengenai museum dan lain-lain. MINUS-nya : content-nya lama-lama di area playground, di mana kalau anaknya kabitaan (suka penginan) jadi pengin ke mall dan main juga"


6. Channel Peppa Pigs (rekomendasi http://www.instagram.com/vrouwenmetal)

Katanya : "Ceritanya simpel, dialeknya British..."


7. Channel Bing Bunny (rekomendasi http://www.instagram.com/sartikartn)

Katanya : "Karena ceritanya problematika anak-anak banget, kayak takut naik perosotan atau nggak suka makan sayur. Dan di ending-nya selalu ada solusi. Plus logat British yang gemash.



Nah dari sekian banyak rekomendasi, ada satu DM yang bikin saya mikir 'Iya juga ya?' dan waspada

"Aku kalau ngasih lihat Youtube, pake offline-mode, masalahnya suka sebal kalau online, kadang suka muncul video Elsa dan Spiderman making baby. Sekarang sih aku prefer kasih mainan fisik, paling gempor beresinnya. Atau beliin DVD film kartun beberapa seri. (http://www.instagram.com/Miyarahmi)

WHOOPS!

Setelah saya cek, memang ternyata ada channel video orang dewasa yang memakai tokoh Elsa, Spiderman dan beberapa tokoh animasi untuk anak-anak.

So hati-hati buibuuuk.

Saya pun baru dapat satu link tentang betapa mengerikannya mekanisme kerja YouTube dan gimana mereka mencoba merusak otak anak-anak demi advertising revenue!

 

Intinya, mekanisme yang sama, seperti yang ada di FB dan Instagram, yang bikin kita penggunanya bolak-balik ngecek update, juga dipake untuk video anak-anak, dengan tujuan supaya anak-anak kecanduan dan bolak-balik nonton/nge-views. More views artinya more money.  Trus untuk tujuan (supaya di-view) ini, ada keyword-keyword yang dipakai oleh Youtube creator yang contentnya berbau seksual dan violent. So, dengan algoritmanya, bisa jadi ketika anak kita abis nonton video Finger family, tetiba loncat ke video Minnie Mouse lagi masturbasi.

WAKS!

Mungkin kita bisa menerapkan kebijakan ini ya :

Dan saya pun menerapkan kebijakan ini ketika menonton tayangan melalui internet
1. Batasi pemakaiannya, 30 menit- 1 jam perhari cukup. Sisanya, tep ajalah, main.
2. Jangan ditinggal, temani saat menonton. Artinya, nonton itu nggak bisa dipakai jadi alat supaya anak anteng sementara kita melakukan pekerjaan lain. Ya tapi lumayan, lah, bisa istirahat dikit.
3. Nonton dalam offline mode, supaya kita bisa seleksi tontonannya.
4. Kalau nonton dalam online mode : Tidak mengaktifkan autoplay,
5. Kalau nonton dalam online mode : Tidak membiarkan anak yang mengontrol mau nonton apa. Ya kadang, kalau satu video abis, dia suka tuh kan ya, main klik sendiri. Itu saya larang.  

Kita nonton offline saja! Dua yang terakhir saya tulis sebelum saya menonton videonya James Bridle tadi.

Selasa, Juni 05, 2018

Tips and Trik Ngasih Obat Buat Anak


Looking after a very sick child was the Olympics of parenting. - Chris Cleave

....Teorinya 'nipu' anak nggak baik dan saya setuju, seharusnya orangtua jangan ngibulin anak, untuk membangun kepercayaannya pada kita.... kecuali kalau kepepet atau desperate. HAHA!
Teman saya pernah bilang, 75% energi kita bakal terkuras saat anak sakit. Dan... dia benar, buibuuk! Awal Mei kemarin, akhirnya saya ngalamin sendiri gimana rasanya! Lilo radang tenggorokan. Kalau dialami orang dewasa masih lah bisa disebut 'cuma radang tenggorokan' dan kehidupan masih bisa berlangsung seperti biasa, tapi begitu yang menderita anak 2 tahun...... kelar. Mendadak kehidupan keluarga saya jadi rusuh, dan rumah dari ujung ke ujung berantakannya ampun-ampunan.

Seperti pernah saya ceritakan, keluarga saya nggak pakai pembantu, lalu pada saat yang bersamaan, saya pun memasuki minggu padat merayap karena ada sidang sarjana di kampus.

Yasalam.

*nangis*

Yang saya alami adalah, secara fisik super lelah dan ngantuk, sampai rasanya pengin ngesot setiap harus ke kantor. Secara emosi? Nggak karu-karuan, campur aduk. Sedih iya, khawatir iya, jengkel dan marah iya (karena anak mendadak rewel, susah tidur plus pengin digendong semalam suntuk.)

Salut buat semua ibu yang anaknya pernah/sedang sakit parah. Semoga kalian semua diberi kekuatan.

Anyway, salah satu hal yang bikin saya kzl adalah minum obat. Buset, itu susah bener anak saya disuruh minum obat. Saya sampai desperate, karena sampai 24 jam setelah ke dokter, dia mingkem maksimal minum obat. Dibujuk apa pun gak mau, ditipu gak berhasil.

Karena desperate, sebagai buibuk era media sosial, akhirnya saya sharing problem dan minta tolong tips and trick ngasih obat ke anak. Eh, dapet beberapa. Saya praktikkan dan ada satu yang berhasil.

Makanya saya mau share di sini, siapa tahu ada buibuk yang membutuhkan. Oh iya, nggak semua saya muat ya, karena banyak saran yang mirip-mirip :

1. Ngibul bahwa yang mau diminum adalah madu. (http://www.instagram.com/glyceriaayu)
2. Pakai spuit, pertama spuit-nya dikasih minuman kesukaan anak, setelah itu tukar obat (http://www.instagram.com/maybabyrent)
3. Dicampur ke makanannya, tapi tanya dulu ke dokter, makanannya boleh dicampur makanan atau enggak (http://www.instagram.com/adikmaria)
4. Campurin air putih sampai seperempat gelas, dikasih dengan sendok atau langsung dari zippy-cup-nya. Untuk pengalihan isu, sambil nonton, gambar atau main. (http://www.instagram.com/jaiko_gecko)
5. Dipaksa aja, tapi dikasih di ujung tenggorokannya supaya nggak ada kesempatan kecicip obatnya (http://www.instagram.com/dianiapsari)
6. Obatnya dicelupin ke lolipop (http://www.instagram.com/an_tania_)
7. Campur ke jus buah atau simple syrup. Simple syrup dijual di apotek, ada rasa jeruk dan strawberry (http://www.instagram.com/d7quack)
8. Liatin Youtube anak-anak lagi minum obat (http://www.instagram.com/aisha_arsy)
9. Pakai suntikan (tanpa jarumnya tentuuu) (http://www.instagram.com/perthykasih)
10.
http://www.instagram.com/yerapermata


Jadi, mana yang saya pakai dan berhasil?

Tadinya saya mengandalkan tipuan kotak minuman nomer 10, saya pikir itu ide yang paling brilian dan pasti berhasil, tapi ternyata enggak.

Yang berhasil adalah combo nomor 1 dan 4. Jadi obatnya saya larutkan lagi dengan air madu, lalu saya sendokin sedikit-sedikit, sambil bilang "Ini air madu, Lil!". 

Tadinya saya agak enggan mencoba untuk melarutkan obat ke air, takutnya dosis atau apalah-apalah berkurang dan efek obat jadi nggak manjur. Baru saya coba di hari ke dua minum obat, setelah hari pertama dramanya edan.

Iye, memang jatuhnya jadi nipu. Teorinya 'nipu' anak nggak baik dan saya setuju, seharusnya orangtua jangan ngibulin anak, untuk membangun kepercayaannya pada kita.... kecuali kalau kepepet atau desperate. HAHAHA.

Semoga berguna ya buat ibu-ibu yang anaknya sedang sakit dan ngadepin drama minum obat! :)

:)

Rabu, Januari 24, 2018

Urusan Domestik, Ya Urusan Suami Juga, Dong!


A husband and wife must function like two wings on the same bird. They work together or the marriage never gets off the ground. - Dave Willis  

 
...Bikinnya doyan, ngurusnya nggak mau. Sama dengan tidak mengertinya dengan bapak-bapak yang sama sekali nggak mau menyentuh urusan rumah tangga.
"Cara menahan emosi saat kesal pada anak adalah... tarik napas, hembuskan... lalu berikan anak pada suami."

Itu adalah posting saya di Instastory beberapa waktu yang lalu. Saat menulis itu saya nggak sedang kesal pada anak. Murni iseng doang.

Ternyata keisengan saya membuahkan curhat dari beberapa orang istri dan ibu via DM. Bahasa yang digunakan sih beda-beda tiap orangnya, tapi intinya, suami mereka nggak akan mau 'kena getah' ngurusin anak.

Sesungguhnya, saya nggak ngerti sama bapak-bapak model begini. Bikinnya doyan, ngurusnya nggak mau. Sama dengan tidak mengertinya dengan bapak-bapak yang sama sekali nggak mau menyentuh urusan rumah tangga.

Eh oops. Maaf, jadi nyinyir. Ehe.
Oke, keluarga dan individu yang beranggapan bahwa rawat merawat anak dan mengurus rumah tangga adalah urusannya perempuan, pasti punya pemikiran sendiri.

Saya yang punya pendapat bahwa seorang suami dalam rumah tangga harus juga memedulikan masalah domestik, pun punya pertimbangan sendiri. Buat saya, urusan rumah tangga, dari bebersih rumah sampai ke merawat anak bukan tanggung jawab saya doang. Beruntung saya memiliki partner yang punya pemikiran yang sama.

So, kenapa saya berpikiran demikian?

Yang pertama, bagi saya suami adalah anggota/bagian dari sebuah keluarga. Satu tim, lah istilahnya. Karenanya tugas-tugas intern tim ya harus dikerjakan oleh semua anggotanya bersama-sama. Sering saya heran dengan istilah 'suami membantu istri mengurus anak' atau 'membantu istri melakukan pekerjaan rumah tangga'. Kalau misalnya yang menjaga anak adalah mertua dan yang menyapu adalah tetangga, maka bolehlah itu disebut 'membantu', karena kewajiban mereka sebenarnya bukan itu. 

Menjaga anak itu tugas seorang suami dan seorang istri, karena itu anak mereka, kan? Mengurus rumah pun kewajiban suami dan istri, karena mereka tinggal di tempat itu bersama.  Ye kan?

Yang kedua, Istri bukan superwoman. Dalam sebuah keluarga, suami dan istri ada perannya masing-masing dengan pembagian pekerjaannya masing-masing. Ada yang bilang bahwa 'suami kerja di kantor dan istri beberes rumah' itu sudah pembagian kerja. Buat saya sih nggak proporsional.

Pakbapak, saya bekerja tapi ada waktu di mana saya jadi stay at home mom juga; jadi saya bisa memastikan lebih capek kerjaan domestik dibandingkan bekerja di kantor, lho! Seriously. Pekerjaan domestik itu  combo  dari tipe kerjaan mikir (masak apa hari ini? Gimana me-manage gaji sekian agar bertahan sampai akhir bulan dan seterusnya) dan fisik juga (nyuci, ngepel, nyapu dan seterusnya), dengan waktu kerja dari melek sampai merem, nggak kelar-kelar. Hayati lelah.

(Saya bisa melihat buibu ngangguk-ngangguk setuju.)

Masyarakat sering mengglorifikasi status/peran seorang istri/ibu menjadi sosok yang tak kenal lelah, super sabar, super kuat, super tabah.... superwoman. Padahal pada kenyataannya, istri/ibu ya manusia juga, bisa capek fisik dan mental. Apa yang terjadi ketika seorang istri/ibu terlalu lelah fisik dan mental? Ia bisa stress bahkan depresi. Ia jadi mudah tersinggung, pemarah, agresif, dan sederet karakteristik negatif lainnya. Ujung-ujungnya akan merusak hubungan antarindividu dalam keluarga tersebut, bahkan ada juga potensi abusif Dan destruktif, misal sampai memukul anak. Mengerikan nggak sih?

Kalau masih ngerasa bahwa nggak ambil bagian dalam urusan domestik itu nggak ada hubungannya dengan diri kalean pribadi, wahai para suami, tahu nggak, libido istri bisa turun kalau stress! Hayoloh! Hayoloh! Haha.

Anyway, pada intinya, buat saya menikah adalah partnership (makanya saya menyebut suami saya dengan 'partner'). Karenanya, kami menjalani pernikahan sebagai tim.  Nah, dua dari sekian banyak karakteristik anggota tim yang baik adalah yang memberikan sumbangan (pikiran/tenaga/finansial) secara fair, plus saling men-support satu sama lain.

Sesederhana itu kok.

By the way, saya pernah bikin posting tentang pembagian pekerjaan rumah tangga antar suami istri, status FB lucu-lucuan doang sih. Lalu ada bapak-bapak yang menjawab : Kalau bisa bayar nanny, pembantu atau minimal Go-Clean, ngapain? Jangan kayak orang susah dong.

Ahaha, iya deh, yang horang kayah!

Tetiba saya iba pada beban yang dipikul istrinya. Iya, secara fisik (bisa jadi) ia tidak lelah, tapi tentu saja ia menggunakan otaknya untuk me-manage para pekerja yang membantu tersebut kan? Belum lagi melibatkan emosi menghadapi pembantu yang banyak dramanya itu. :P

Satu-satunya cara agar sang istri nggak capek emosi/mental ya memiliki pemikiran yang sama dengan sang suami : nggak peduli urusan anak dan rumah tangga; semua diserahkan pada nanny, ART dan Go-Clean.

Etapi kalau sampai gitu banget, dua-duanya nggak mau direpotin printilan rumah tangga, dari awal ya gak usah berkeluarga aja sekalian, kali ya? 

:))

Kamis, November 02, 2017

8 Komentar 'Lucu' Tentang C-Section (Yang Bisa Diabaikan)

Every mom has a mission. To love, guide and protect her family.Don't mess with her when she's on it. - Vicky Reece.
....selama hamil berminggu-minggu, sebenarnya otot-otot dasar panggul kita sudah teregang.Jadi, ubi-ubi yang melahirkan pervaginam, mau pun SC, sama-sama kendor!
Jauh sebelum punya anak, saya pernah kongkow dengan beberapa teman. Mereka semua sudah punya anak, dan kebetulan semuanya melahirkan dengan cara C-section. Saya masih ingat betul, salah satu topik yang terbahas adalah bagaimana mereka kerap mendapatkan komentar yang bikin panas telinga gegara cara melahirkan mereka yang tidak pervaginam. Waktu itu saya hanya menjadi pendengar yang budiman; namun saya mendapatkan satu kesimpulan : hati-hati dengan mamak-mamak, karena mulutnya kayak lotek karet dua, pedeus.

BACA JUGA :  TENTANG MOMPETITION (DAN 5 CARA SAYA MENGHINDARINYA). FEAT KARYA TISYA HANAFIE

Mungkin gara-gara itu pula, ketika bertahun-tahun kemudian saya hamil, dan karena kondisi medis harus melahirkan C-section, maka sikap saya menjadi super defensif. Jawaban-jawaban yang saya berikan kalau berkaitan soal cara melahirkan sangat antisipatif semi ketus, yang tentoenja berpusat dari suudzon. Dalam pikiran saya selalu bercokol kecurigaan 'Ni orang nanya cara lahiran kenapa nih? Mau apa?'

Setiap menjawab pertanyaan, saya selalu menambahkan kata 'Emang kenapa gitu?' di ujungnya.

'Eh, kamu ngelahirinnya normal apa Cesar?'
'Cesar. Emang kenapa gitu?'

Kombinasi antara muka resting bitch dan jawaban berbuntut 'Emang kenapa gitu?' kayaknya bikin males orang yang nanya deh, soalnya pasti respons mereka 'Ah nggak apa-apa. Nanya doang, koook...' :)))

Makanya, saya nggak pernah mengalami dikomentari sampai panas kuping seperti kawan-kawan saya. Tapi kemudian, saya jadi berpikir, jangan-jangan selama ini saya terlalu GR dan defensif?
Jangan-jangan orang-orang sebenarnya nggak sejahat itu dengan yang lahirannya C-section? Teman-teman saya saya yang apes, lingkungannya reseh.

Akhirnya, secara iseng, di Instastory, saya menanyakan para ibu C-Section, apakah pernah mendapat komentar nggak enak gara-gara C-Section? Kalau pernah, kayak apa komentarnya?

Daaaaaaan......

Ada sekitar 100-an DM masuk selama 24 jam. Semuanya bilang pernah sakit hati menerima komentar tentang C-Section yang didapat dari orang-orang sekitar.

Nah, kayak apa komentar-komentarnya? Macam-macam sih, tapi sudah saya kelompok-kelompokkan. Dan kata saya sih, semuanya bisa diabaikan, karena kebanyakan sih mitos/asumsi akibat kurang informasi doang.

1. Ibu yang menjalani kelahiran dengan C-Section adalah ibu yang 'malas'/mau gampangnya/mau cepat.

Komentar ini bisa langsung diabaikan kok. Kebanyakan para ibu C-Section yang 'curhat' via DM menyatakan bahwa sebenarnya mereka sangat ingin melahirkan pervaginam, namun, apa daya kondisi medis mengharuskan mereka menjalani C-Section; untuk menyelamatkan nyawa baik ibu mau pun anaknya.