Laman

Tampilkan postingan dengan label Modyarhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Modyarhood. Tampilkan semua postingan

Senin, September 24, 2018

#Modyarhood Style : Sesudah dan Sebelum Punya Anak

 Just find what works for you, what style suits you best, and just be confident enough to rock it. - Odell Beckham, Jr.


...Sejujurnya, gelora dress up begitu besar dalam diri, tapi apa daya, kejadiannya selalu pergi buru-buru, bahkan kadang sampai nggak mandi.
 Ketemu lagi di #Modyarhood! Copy-paste lagi ya, siapa tau ada yang lupa, apaan sik, #Modyarhood ini.

Modyarhood adalah blogging project saya bareng Puty. Intinya kami berdua akan membuat blog-post dengan tema-tema seputar motherhood, dari sudut pandang kami berdua. Lalu, kami mau mengajak ibu-ibu blogger lainnya untuk posting tulisan dengan tema yang sama. Ya tujuannya sih untuk melihat banyak variasi sudut pandang soal menjadi ibu, agar wawasan kita terus bertambah. TSAH!

Anyway, topik-topik yang pernah kami angkat adalah : 

 5 Alasan Saya nggak Rajin Baca Parenting Books,  
Belajar Menjadi Ibu yang Waras dari GTM ,
Kencan Setelah Punya Anak,
Kerjaan Domestik : Sepele Tapi Bikin Senewen
Dari Sebel Jadi Kangen  
Beranteman Ala Anak-anak.
Bermain dan Permainan Anak-anak

Modyarhood kali ini masih berhadiah! Dan sponsor tunggal kami adalah : Minimons by Dinda Jou! Sila baca terus sampai bawah untuk lihat apa hadiahnya ya. Dan...


Tema sekarang adalah style sebelum dan sesudah punya anak. 


Waktu (((masih gadis))), saya suka mendengar rangorang bilang, kalau sudah punya anak, style penampilan seorang perempuan bakal berubah jadi lebih lusuh, karena nggak bakal sempet dandan, bisa sisiran aja sukur. Ya, seperti kata Puty, sudah ada stereotip yang mengikuti kata 'emak-emak', yaitu sosok perempuan berdaster dan pake rol. :))

Style saya kurleb sih chic-casual . Kalo lagi experimental, boho/hippies. Tapi yang jelas, saya itu Miss Aksesoris. Karena printilan aksesoris dan jewelry yang saya pakai itu banyak. Ya shawl, ya scarf, belt, belum gelang, cincin, anting. Zaman SD kalau ada yang pakai aksesoris banyak, ledekannya : elu mau buka toko? :D



Sekian dari sekian banyak foto OOTD di FB saya :D

Iya, saya doyan dandan, nggak pernah nggak dress up kalau keluar rumah (dan pasti jahit baju baru kalau ada kondangan).  Jadi waktu itu sih saya nggak bisa bayangin bakal tampil lusuh, apa lagi sampai dasteran dan pake rol. Lagian, saya juga nggak punya daster. Punyanya kaos lusuh dan celana pendek. #eh

Lagi pula, sahabat saya, teman sekantor saya, itu semacam mamak-mamak yang juga nggak dasteran. Jadi saya yakin kalau jadi mamak-mamak pasti akan tetap dress up.

Saya dan Ella, sahabat saya, seorang emak-emak.

Biasanya ekspektasi dan realita suka beda ya? Ekspektasi, style bolelah nggak berubah. Nah, realitanya?

Di hari pertama keluar rumah, seminggu setelah anak saya lahir, baju-baju masa gadis saya nggak bisa dipake! Karena saya kan lahirannya sectio, yes? Model-model baju saya ngepas-ngepas gitu, perih, kena bekas operasi. Plus, semuanya nggak ada yang ramah busui. Ya emang saya bego banget, nggak menyempatkan diri beli baju dan beha menyusui.

Saya keluar nggak pakai daster sih. Saya bukan #timTidurDasteran, ingat? Saya keluar rumah pake... piyama.

Apakah waktu itu insidentil doang? Enggak dong! Di hari-hari berikutnya saya nggak sempat dandan! Kejadiannya selalu begini :








Sejujurnya, gelora dress up begitu besar dalam diri, tapi apa daya, kejadiannya selalu pergi buru-buru, bahkan kadang sampai nggak mandi. Mau nyiapin baju malem-malem? Udah keburu lelah pengin tidur. Nasib #TimNggakPakeART.

 Jadi gimana style saya kurleb?

Gini

Nggak dasteran sik. Tapi....

Ke kantor pun, cuma lebih rapih dikit. Sisanya sama, celana panjang dan kemeja. Sneakers. Make up juga seadanya.

Jadi, bener dong, kalau punya anak bikin kita lusuh?

Nggak sih.  Saya nggak banyak dandan dan dress up sampai Lilo usia setahun! Lewat dari situ, bisaaa! YAY!

Kok bisa?

Kayaknya sih ini karena saya dan partner semakin piawai ngurus anak dan rumah tangga, jadi manajemen waktunya semakin baik, dan pembagian kerjanya juga semakin oke. Tanpa perlu diskusi banyak-banyak, kami tahu, kalau saya lagi ngapain dia harus ngapain.

Pas saya lagi masak, dia nemenin Lilo sambil beresin tempat tidur. Sarapan bareng. Begitu kelar, saya nyiapin Lilo sekaligus sambil mandi bareng, sementara partner beresin bekas masak dan sarapan lalu dia mandi. Setelah dia selesai, dia menggiring Lilo keluar rumah dan main sehingga saya bebas dandaaaaan.

Kami bisa melakukan segalanya jauh lebih efisien, dan keluar barengan. #soundswrong

Walau pun saya jadi sempat dress up, tapi ada sedikit perubahan sih dengan style. Saya merasa style saya lebih sederhana dan jauh lebih mementingkan kemudahan dalam nguber anak kenyamanan : no boots, no dress, no mini skirt, aksesoris/perhiasan secukupnya.


YAY! Dandan lagiii!
Jadi buibuk gimana soal gaya bergaya sebelum dan setelah punya anak? Apakah tidak berubah seperti Puty? Makin sederhana seperti saya? Atau tetap cetar? Cerita dong buuk! Pakein foto-foto biar seru!

  • Ibu-ibu silakan tulis cerita tentang style ini di blog masing-masing
  • Kemudian tinggalkan komen di blog saya mau pun Puty menuju URL ke postingan tersebut
  • Post foto di IG, tag saya di IG (@mamamolilo dan @byputy)
  • Deadline-nya 8 Oktober ya!
Ini dia profile sponsor kami dan hadiahnya.

MinimonsByDindajou: “The Soulful Scarf”

Setelah mengalami depresi yang meruntuhkan kepercayaan dirinya, Dinda Jouhana bertekad untuk kembali mencintai dirinya sendiri. Baginya, ini berarti berkarya. Membuat sesuatu yang berguna.

Minimons by Dindajou, adalah adalah hasil kerja penuh kasih dan perjuangannya untuk tetap positif dalam hidup. Scarf ini ia desain sendiri, dan dicetak secara digital pada bahan voile berkualitas tinggi.

Tidak hanya sebagai aksesoris multi fungsi yang dapat mengubah penampilan dalam sekejap,  scarf ini seolah menjadi penyampai pesan dari Dinda untuk para perempuan: bahwa mereka tidak sendiri. 

Pemenang 1 - Satu buah Square Scarf, satu buah Pashmina dan satu buah Mini Scarf + Aksesoris (Total seharga Rp 564.000)

Pemenang 2 - Satu buah Square Scarf dan satu buah Pashmina + Aksesoris (Total seharga Rp 484.000)

Pemenang 3 - Satu buah Square Scarf  + Aksesoris (Total seharga Rp 285.000)


Kamis, Agustus 16, 2018

#Modyarhood : Bermain, Antara Ekspektasi dan Realitasnya

HAI! NUNGGUIN MODYARHOOD NGGAAK?

Oh, enggak ya?

Biarin. Saya (dan Puty) tetep pengin nulis buat Modyarhood plus bagi-bagi hadiah buat buibuk semuanya.

YHA, h a d i a h.

Gimana, buibuk, sudah berubah pikiran jadi nungguin modyarhood? :))

Anyway, mungkin saking lamanya nggak ada seri Modyarhood di blog saya mau pun Puty, buibuk udah pada lupa kali ya, apa-apaan Modyarhood ini. Diulang aja kali ya : Modyarhood adalah blogging project saya bareng Puty. Intinya kami berdua akan membuat blog-post dengan tema-tema seputar motherhood, dari sudut pandang kami berdua. Lalu, kami mau mengajak ibu-ibu blogger lainnya untuk posting tulisan dengan tema yang sama. Ya tujuannya sih untuk melihat banyak variasi sudut pandang soal menjadi ibu, agar wawasan kita terus bertambah. TSAH!

Anyway, topik-topik yang pernah kami angkat adalah : 

 5 Alasan Saya nggak Rajin Baca Parenting Books,  
Belajar Menjadi Ibu yang Waras dari GTM ,
Kencan Setelah Punya Anak,
Kerjaan Domestik : Sepele Tapi Bikin Senewen
Dari Sebel Jadi Kangen  
Beranteman Ala Anak-anak.

Tema besar kali ini adalah tentang :

Mainan dan permainan anak-anak.

Sudut pandang atau mau cerita apanya sih, ya terserah buibuk sekalian ya. Lalu, hadiahnya dan cara ngedapetinnya gimana? Bakal ada di akhir tulisan ini ya, silakan dibaca dulu posting saya.




Toys are important, formative components in children's lives. They entertain as well as teach, and they may do both with positive and negative consequences. - Marge Cambre & Mark Hawkes, Tools & Teachers: The Challenges of Technology






Sebelum punya anak itu adalah waktu yang paling tepat untuk bercita-cita ideal ingin menerapkan pola asuh sesuai dengan teori parenting yang ada,. Karena, begitu anaknya ada, bubyar. HAHA. Mamam noh, teori dan ekspektasi.

Saya memercayai bahwa mainan dan bermain itu membuat anak-anak menggunakan kreativitas, sambil mengembangkan imajinasi, ketangkasan dan kekuatan fisik, kognitif dan emosional. Dulu, pas lagi hamil, saya sudah punya bayangan sendiri tentang kondisi bermain dengan anak saya. Mainannya ya mainan edukatif, melibatkan sensori, ala-ala Montessori gitu deh. Anak saya main dengan riang gembira bersama saya, dalam ruangan ala Scandinavian.

Ternyata, itu hanya ada di situs-situs image banks, karena pada kenyataannya, nggak demikian.

Jauh, sisss. Kayak dari BIP, ke Kopo. #HanyaOrangBandungYangPaham

Jadi, jadi apa saja sih realitas yang meleset dari ekspektasi saya tentang mainan dan permainan ini?


1. Lupakanlah idealisme pribadi dalam bermain, lupakan, lupakan, lupakan.
Buat saya, balon itu  nyampah. Umur dimainkannya cuma sebentar . Kalau mainan lain kan bisa dimainin lama, kalau anak sudah bosan pun masih bisa dikasihin. Nah, balon? Pecah atau kempes ya nggak bisa diapa-apain lagi

OOT, nih, makanya saya sebel banget sama event semacam kawinan yang pakai lepas balon. Bagusnya cuma sebentar, sudahnya nyampah. Dan nyampahnya entah di mana kan? Tergantung di mana balon-balon tersebut jatuh.

Selain balon, saya pun nggak demen sama mainan pasar, dengan alasan sama, dimainin sekali, terus rusak. Udah gitu, nggak jelas lagi keamanannya, pewarnanya apa, bahannya apa, tajam atau nggak.

Jadi sebelum punya anak nih, saya bercita-cita untuk nggak ngasih anak saya balon.

Masih aman sampai Lilo punya teman anak tetangga dan mereka main balon serta main mainan pasar yang merah kuning ijo gonjreng itu. Awalnya dia dihadiahi mobil-mobilan seharga seribu, kemudian...jadi keterusan.


2. Biarkan saja kreativitas anak dalam bermain, even ketika cara bermainnya tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Saya sih melihat, anak-anak itu punya imajinasi sendiri akan benda-benda yang ada di sekitarnya, termasuk mainannya. Lego yang seharusnya bisa dibangun jadi sesuatu, malah dijadikan sayuran dan buah-buahan buat main pasar-pasaran. Boneka dijadikan bola ditendang-tendang. Keping-keping puzzle dimandikan. Makanan diobok-obok dan diremas-remas, lalu diawur-awur, playsand  ditabur di karpet, bowl berisi waterbeads plus airnya dituang ke lantai. MAAAK!

Dulu-dulu saya suka gemes, pengin bilang 'Bukan gitu lhooo caranya...', beberapa alasannya karena berantakan. Ehehe. Namanya buibuk tanpa ART ya? Sensi sama yang berantakan-berantakan.

Tapi kalau saya kerap mengoreksi, jadinya saya mengatur dia dan mematikan kreativitasnya dong?

So, sekarang, bebaskan sajalah, bahkan seringnya saya ikutan nyebur juga dalam imajinasinya!

Soal beres-beres? Serahkan pada partner. #eh

Nggak ding, don't rich difficult people lah, jangan kayak orang susah, panggil GoClean!

3. Monkeys see, monkeys do. Kalau punya cita-cita anak suka aktivitas dan mainan tertentu, kasih contoh.

Saya dan partner percaya bahwa mainan dan permainan itu sebenarnya gender-free, jadi saya tidak pernah membatasi 'mainan/permainan cewek' dan 'mainan/permainan cowok', harapan kami sih, jenis mainan dan permainan yang dikenal dan disukainya luas.

Kenyataannya, ya nggak segitu luasnya juga. Mainan dan permainan yang disukainya ya ternyata sebatas yang dilihatnya dari bapak dan ibunya. Masak-masakan (karena melihat saya), menggambar (karena melihat saya dan partner), musik (karena lihat partner), baca buku (karena lihat saya dan partner), main skateboard  (partner).

Main bola? Saya dan partner enggak demen.
Mobil-mobilan? Enggak
Robot-robotan ? Enggak.

Lalu, saya dan partner ingin anak kami suka bermain di luar ruang. Buat partner nggak masalah, karena dia suka aktivitas luar ruangan. Sementara saya? Sebenarnya saya anak rumahan sih, introvert pula. Bayangan ketemu dengan tetangga, para nanny dan ngobrol basa-basi sejujurnya bikin saya senewen. Cuma, demi anak suka di luar ruangan, okeh, saya keluar!

4. Kadang, anak lebih tertarik pada hal-hal di luar mainannya. Biarkan sajalah.
Mainan setrikaan yang mirip asli, wooden pull out puzzle, miniatur dinosaurus-dinosaurusan bisa kalah dengan botol plastik air mineral, bubble wrap dan kotak tissue saudara-saudara. Mainan-mainan beli di toko itu kayaknya maksimal dimainin sejam, nah benda-benda keseharian lebih bisa menghisap konsentrasi anak saya, sampai berjam-jam. Dipukul-pukul, dipites-pites, dijadiin orang-orangan, entahlah apa lagi.

Lha, piye, sudah dibeliin so called mainan edukatif, kok ya milih botol plastik mainan? :))

Ya katanya sih, anak seringnya lebih tertarik pada tekstur, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan sensory. Yawiiiis. Tapi bagus jugalah, jadi modal bermain anak saya murah. :))

Oh selain hal-hal yang berhubungan dengan sensori, keikutsertaan saya dan partner dalam bermain juga penting untuk bikin anak saya main. Saya memerhatikan, kalau saya nggak excited bermain, dia bakal berhenti juga.

Jadi, buibuk punya cerita sendiri tentang bermain, mainan dan permainan anak-anak buibuk? Yuk tulis juga di blog. Dan seperti yang sudah saya sebutkan, ada hadiahnya lho! Ini diaa :

Freddie The Frog Shoes
Freddie the Frog ini dimulai dari akhir tahun 2009 oleh saya (Fanny) dan suami saya (Jimmy). mulai dari desain packaging, desain sepatu hingga distribusi dan produksi kami kelola sendiri. Untuk sekarang ini Freddie the Frog sudah mempunyai 4 mini-store di beberapa mal di Jakarta dan Surabaya. Selain itu kami juga sudah berhasil mendistribusikan sepatu kami ke Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Australia. Keunggulan produk kami selain model yang trendi, nyaman dipakai bayi juga bisa di-personalized nama baby atau tanggal lahir baby di telapaknya.

Jadi selain gaya bisa juga buat kenang-kenangan sampai besar nanti.

Selain sepatu prewalker, kami juga menjual berbagai aksesoris sepatu yang bisa di mix and match dengan sepatunya.

Berikut link about us di website kami : http://freddiethefrogshoes.com/about

Ini dia hadiahnya :






Zoetoys 
Bermula dari mengajak Si Kecil bermain dan belajar melalui sarana mainan edukatif, saya (Cynthia) memulai Zoetoys di October 2015, tujuannya untuk menginspirasi orang tua dalam mengedukasi anak usia dini, dengan memudahkan mencari dan mengetahui mainan yang cocok untuk usia anak-anak mereka.

Yang pastinya mainan-mainan edukasi yang bermutu dengan harga yang terjangkau. Buat orang tua yang mencari kado (secara suka banyak anak saudara dan teman yang ulang tahun) pun jadi tdk kebingungan karena banyak pilihan yang kami sediakan. Selain mainan edukasi anak, kami juga menyediakan buku untuk menunjang edukasi anak.

Sekarang ini Zoetoys sudah ada 5 karyawan yang membantu mengembangkan usaha ini. Dan sudah memiliki pelanggan tetap tidak hanya di dalam negeri, namun juga luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia.

Tagline kami
 "Learn Better with Playing"

Ini dia hadiahnya :



Cokelat Colatta 
Cokelat Colata merupakan seri produk cokelat, dari Gandum Mas Kencana.

 
Gimana cara ikutannya?

  1. Tulis blog post dengan tema ini di blog masing-masing
  2. Posting foto yang ngasih tau link posting-an buibuk dan tag/mention kami di Instagram. Jangan lupa kasih hashtag modyarhood ya?
  3. Tinggalkan komen dengan tautan ke posting buibuk di blog saya dan Puty
  4. Deadline-nya 31 Agustus 2018 yes?

Yuk ah, yuk ah!

Senin, Juni 04, 2018

#Modyarhood : Beranteman Ala Anak-anak.


Wishing to be friends is quick work, but friendship is a slow ripening fruit. - Aristotle 


Eaak, belum juga posting yang lain, sudah harus posting Modyarhood. Apa blog ini ganti namanya jadi modyarhood aja gitu? :))

Sekedar mengulang, untuk yang baru dengar istilah #modyarhood, ini adalah blogging project saya bareng Puty. Intinya kami berdua akan membuat blog-post dengan tema-tema seputar motherhood, dari sudut pandang kami berdua. Lalu, kami mau mengajak ibu-ibu blogger lainnya untuk posting tulisan dengan tema yang sama. Ya tujuannya sih untuk melihat banyak variasi sudut pandang soal menjadi ibu, agar wawasan kita terus bertambah. TSAH!

Anyway, sudah ada 4 topik yang kami inisiasi, yakni : 5 Alasan Saya nggak Rajin Baca Parenting Books, Belajar Menjadi Ibu yang Waras dari GTM ,Kencan Setelah Punya Anak, dan Kerjaan Domestik : Sepele Tapi Bikin Senewen, dan yang terakhir Dari Sebel Jadi Kangen.


Temanya? Soal konflik anak-anak, terutama antarsepupu. Sudut pandang yang buibuk ambil boleh beda-beda ya, boleh nyeritain penyebab konflik antarsepupu di masa kecil, resolusinya. Belum punya anak? Mau nyeritain pengalaman zaman dulu dengan sepupu-sepupu buibuk? Boleee....

Tema ini diangkat karena sesuai dengan tema film anak-anak berjudul 'Kulari Ke Pantai.' produksi Miles Films. Karena bakal ada BANYAK hadiah berupa undangan nonton premier dan tiket menonton film ini.

Baca terus yang buibuk, supaya tahu detailnya.

....

....biasanya yang bikin konflik anak jadi panjang justru karena campur tangan ibunya. Yang berantem anak, ibu-ibu turun tangan, kemudian ibu-ibunya ikut musuhan
Saat yang paling saya tunggu-tunggu waktu kecil adalah liburan sekolah. Soalnya, dulu keluarga saya tinggal di luar Jawa dan menjadwalkan pulang kampung setahun sekali di libur sekolah ini. Saya senang banget karena liburan artinya... 'liat' kota dan ketemu sepupu-sepupu!

Dulu sih, setiap ke Bandung, saya dan keluarga menginap di rumah kakaknya nenek saya. Nah, kebetulan cucu-cucunya pun pada menginap di sana. Ada sekitar 12 anak, dari yang masih batita sampai kelas 6 SD. Jadi rame!

Saya sendiri berasal dari keluarga kecil, 'cuma' punya satu adik. Jadi ketemu dengan sepupu-sepupu ini kayak mendadak punya banyak kakak dan adik gitu. Untuk yang sudah SD (termasuk saya), hobinya kurang lebih sama, sih, baca buku, berkhayal dan main. Makanya saya seneng banget ketemu mereka. Kalau yang kecil-kecil, ya paling mainnya masih bareng orangtua masing-masing sih.

Kami adalah generasi novel-novelnya Enid Blyton. Jadi saya ingat betul, permainan yang sering kami mainkan adalah pura-pura jadi anggota Lima Sekawan yang menghadapi satu masalah yang harus dipecahkan bersama. Atau untuk yang cewek-cewek, pas malem-malem pura-pura jadi murid sekolah Mallory Towers yang sedang berpesta tengah malam.

Err, masih pada tau nggak sih seri detektif cilik novel Lima Sekawan atau Malory Towers? Kemarin pas ke toko buku sih saya liat dua buku ini masih ada, dengan cover yang tentunya beda dengan yang dulu. Untuk Lima Sekawan sila intip ini ya : https://id.wikipedia.org/wiki/Lima_Sekawan_(seri). Untuk Malory Towers : https://en.wikipedia.org/wiki/Malory_Towers.

Kedengerannya saya dan sepupu-sepupu saya klop banget ya? Pada dasarnya sih iya, tapi kalau pada mengira kami selalu hidup rukun damai dan harmonis selama liburan, ya enggak. Ada kok konfliknya, In fact, setiap hari pasti ada kejadian berantem. Ada yang pundung, ada yang musuhan, ada yang saling ngatain, ada yang nangis, bikin kubu-kubuan dukung A dan B, bahkan paling parah, ada yang berantem fisik, sampai tonjok-tonjokan dan lempar-lemparan kursi plastik. Itu saya. Eh.

Penyebab konflik? Macem-macem. Ada yang karena rebutan buku yang lagi dibaca. Ada yang ngerasa nggak adil dalam pembagian peran; ini untuk permainan Lima Sekawan ya, yang anggotanya cuma lima orang dan salah satunya itu Timmy, dalam wujud anjing peliharaan. Yang gede-gede pasti sudah nge-tek jadi Julian, Dick, George (saya!), Anne. Nah, yang umur nanggung, sudah bukan balita dan pengin ikutan, kami suruh jadi... Timmy. Dan kami perlakukan semena-mena sampai pundung. HAHAHA.

Terus baikannya gimana?

Enggak inget. beneran asli nggak inget. Tapi yang saya ingat adalah, kalau berantemnya pagi, sorenya, pas makan malem ya sudah akur lagi. Kami musuhan nggak pernah sampai 24 jam dan lucunya, pas sudah baikan, ya kondisi balik lagi seperti semula lalu nggak ada yang mengungkit-ungkit masalah yang sudah lewat.

Lalu, adakah peran orangtua dalam mendamaikan konflik kami? Kecuali untuk yang saya tonjok-tonjokan sih Enggak! Orangtua-orangtua kami selalu membiarkan kami menyelesaikan masalah sendiri, karena sebenarnya mereka pengin liburan juga. 

Anyway, biar pun konflik melulu, tapi nggak lantas bikin hubungan kami jadi renggang deh. Saya tetap menikmati bermain bersama mereka, dan saya tetap menantikan liburan sekolah, untuk bertemu mereka.

Setelah saya besar, ibu saya menceritakan alasannya tidak ikut campur dalam 'urusan' perkelahian kami. Dia bilang, pada dasarnya konflik itu baik buat anak-anak, membuat anak-anak belajar memecahkan masalah dengan orang lain, memperlakukan orang dengan adil, bekerjasama, berempati dan belajar komunikasi.

"Makanya, Mamah nggak ikut campur, kecuali yang pas kamu mau nonjok si Ria. Daripada sepupu kamu itu bonyok kan ya?"

Owkaaay....  :))))

So, conflict is actually good. Hm.

Lilo, putri saya, nggak punya pengalaman seru bareng sepupu-sepupunya sekarang, karena dia jadi yang pualing kecil di antara anak-anak seangkatannya. Bayangin, dia baru 2 tahun, sementara yang paling kecil yang di atas dia itu, sudah kelas 6 SD. Kejauhan.

Tapi, dia punya geng kok. Jadi, saya baru pindah ke rumah sendiri, setelah selama beberapa saat tinggal di pondok mertua indah. Dalam 3 bulan ini, Lilo punya empat teman yang kurang lebih seumuran lah. Paling bontot memang teteub dia, tapi jarak dengan yang lainnya ya nggak jauh-jauh amat.

Sama seperti saya dan sepupu-sepupu saya, mereka kadang klop, kadang berantem. Kalo lagi berantem, rasanya saya gatel pengin melerai, cuma saya menahan diri. Saya baru bakal turun tangan kalau sudah mulai ada adu fisik, yang sejauh ini belum pernah sih.

Saya pernah mengamati proses rekonsiliasi mereka. It's so good! Pasti akan ada satu orang yang jadi mediator. Ini yang paling tua sih, yang mencoba membujuk kedua pihak bermusuhan. Lalu mereka ngobrol. Dan, tadaa! Baikan dalam waktu paling tidak setengah jam.

Mungkin juga karena pada dasarnya anak-anak itu punya hati yang besar untuk memaafkan ya? :)

Kata ibu saya malah, biasanya yang bikin konflik anak jadi panjang justru karena campur tangan ibunya. Yang berantem anak, ibu-ibu turun tangan, kemudian ibu-ibunya ikut musuhan. Ribet. Haha.

....

Okeh, sebelum kita masuk ke cara mendapatkan hadiah, plus apa hadiahnya, kita liat cerita ringkas film ini ya :


Sam (Maisha Kanna), si anak pantai asal Rote-NTT, beserta Ibunya, Uci (Marsha Timothy), akan melakukan perjalanan darat berdua saja. Rencana perjalanan adalah dari Jakarta dengan tujuan akhir Banyuwangi, untuk menemui surfer idola Sam di pantai G-Land. 

 Namun, sehari sebelum keberangkatan, sepupu Sam, Happy (Lil’li Latisha), yang sangat berbeda dengan Sam, berulah saat kumpul keluarga di Jakarta. Di hadapan banyak orang, Happy merendahkan Sam. Ibu Happy, Kirana (Karina Suwandi) , meminta Happy ikut dalam perjalanan Sam dan Uci dengan harapan ia bisa mengenal & menghargai sepupunya lebih baik. 

Perbedaan keduanya membuat perjalanan darat dengan mobil menjadi penuh tantangan dan tidak sesuai rencana. Berbagai situasi tak terduga muncul dan berbagai karakter unik dan lucu mereka temui dalam perjalanan. Apakah Sam dan Happy akhirnya bisa saling menghargai satu sama lain?
Penasaran kan?

Untuk menambah penasaran buibuk. Ini trailer-nya


Sudah pengin ngajak anak-anak nonton nggak buibuk?

Well, no worries, karena Modyarhood kali ini mau milih 4 orang sebagai pemenang, yang masing-masing bakal dapetin 3 undangan nonton saat premiere atau screening.  Ada 12 tiket lho! Wohoo, bakal nonton duluan, sebelum filmnya diputar di bioskop! Lalu para pemenang ini bakal dapat tambahan berupa 4 buah voucher belanja untuk pemenang senilai @ IDR 250.000

Sama aja kayak ikutan modyarhood sebelum-sebelumnya

1. Tulis blog post dengan tema ini di blog buibuk.
2. Insert/embed trailer film ini  Dalam postingan buibuk.
3. Posting foto yang ngasih URL postingan buibuk dan tag/mention kami di Instagram. Jangan lupa beri tagar #Modyarhood
4. Tinggalkan komen dengan tautan ke posting buibuk di blog saya dan Puty
4. Deadline tanggal 11 Juni 2018

Rabu, Maret 14, 2018

#Modyarhood Pekerjaan Domestik : Sepele Tapi Bikin Senewen.

It is the woman - nearly always - in spite of all the advances of modern feminism, who still takes responsibility for the bulk of the chores, as well as doing her paid job. This is true even in households where men try to be unselfish and to do their share. - A.N Wilson



Sudah waktunya #modyarhood lagi nih! Sekedar mengulang, untuk yang baru dengar istilah #modyarhood, ini adalah blogging project saya bareng Puty. Intinya kami berdua akan membuat blog-post dengan tema-tema seputar motherhood, dari sudut pandang kami berdua. Lalu, kami mau mengajak ibu-ibu blogger lainnya untuk posting tulisan dengan tema yang sama. Ya tujuannya sih untuk melihat banyak variasi sudut pandang soal menjadi ibu, agar wawasan kita terus bertambah. TSAH!

Anyway, sudah ada 3 topik yang kami inisiasi, yakni : Parenting books, baca atau nggak?, Gerakan Tutup Mulut dan Kencan Setelah Punya Anak. Bulan lalu kami memberikan hadiah dengan modal sendiri buat ibu-ibu yang tulisannya kami anggap yahud. Bulan ini, puji Tuhan, ada 3 pihak yang mau mensponsori. Jadi baca terus ya buibuk, untuk tahu apa dan gimana cara dapetin hadiahnya.

Selama 3 tahun berumah tangga, dari belum punya anak sampai beranak kayak sekarang saya belum pernah mempekerjakan pembantu. Bukan, bukan karena saya sok-sokan jadi manusia super yang bisa ngapa-ngapain sendiri; tapi lebih karena kondisi keluarga saya yang tidak berjodoh sama urusan mempekerjakan pembantu rumah tangga.

Untungnya partner saya termasuk terampil dan punya inisiatif tinggi dalam urusan pekerjaan rumah tangga, dari bebersih, masak, nyuci-nyuci bahkan sampai ngurusin anak. Pfiuh.

Selama pembantu-less ini, saya dan partner saling bahu membahu dalam urusan rumah tangga. Kami nggak melakukan pembagian secara saklek sih, siapa yang bisa melakukan ya lakukanlah. Kalau sudah begini, seharusnya urusan domestik sudah nggak perlu dipusingin lagi dong ya?

TAPI TERNYATA ENGGAK LHO, BUIBUK!

Saya masih pusing. Ada dua hal kontradiktif yang bikin kepikiran.

Yang pertama, saya sering merasa bersalah pada suami saya, karena dia jadi double sibuk.Ya sibuk kerja, ya sibuk ngurusin/bebersih rumah, ya ngurusin anak juga. Yang kedua, ini rada ngehe sih,  saya senewen kalau apa yang dikerjakan partner tidak sesuai dengan cara saya, atau dia skipped satu pekerjaan.

Mungkin saya terdengar sebagai estri yang tidak legowo. Tidak bersyukur dan tidak tahu diuntung, punya suami sudah baik begitu, kok ya masih komplen. Aduh, semoga saya nggak kena azab, ya buibuk.

Saya sempat mengobrol dengan beberapa kawan perempuan saya. Dan ternyata mereka juga punya kegalauan sama. Kawan-kawan perempuan saya semuanya hidup tanpa pembantu dengan alasan masing-masing, dan punya suami yang nggak alergian bantu-bantu urusan rumah tangga. Tapi alih-alih merasa beban hidup berkurang, keadaan justru malah jadi nambah pikiran. Kami semua sama-sama sering merasa bersalah 'menyibukkan' suami untuk urusan domestik. Kami semua juga sama-sama ngehek, punya kebiasaan buruk tidak menyesuaikan standar dan metode dengan cara suami masing-masing.

Pada akhirnya kami dapat satu hipotesa (yang nggak dilanjutkan jadi penelitian juga, sik! Kami kan sibuk ngurus keluarga #eh); yakni kami-kami ini adalah perempuan yang dibesarkan dalam pola asuh keluarga (patriarki) konvensional, yang (salah satu value-nya adalah) menganggap bahwa pekerjaan rumah tangga itu adalah tanggung jawab dan keahlian kheuseus seorang estri. 

Cuma istri. Suami gak ikutan. 

Ya ampun, dengan pemahaman yang cukup tentang gender dan feminism yang kami miliki sejak masa dua puluhan awal, seharusnya kami nggak perlu merasa gini. Apa daya didikan masa kecillah yang lebih kuat membentuk pola pikir kami.

Akibatnya, pembagian kerja rumah tangga membuat kami merasa ada tugas yang 'diambil' dari kami; sehingga muncul perasaan tidak enak/tidak berguna, yang bikin senewen. Padahal, please deh, melakukan semuanya sendiri juga nggak mungkin, bisa modyar kami. :))

Lalu, masih berkaitan dengan soal gender-roles, kami, perempuan-perempuan ini, merasa karena kami perempuan, maka kamilah yang paling jago di urusan domestik. Minimal karena kami pernah melihat pola kerja ibu kami. Sementara para laki-laki, tidak dibiasakan untuk peduli urusan rumah tangga. Makanya, ketika mereka mengerjakan sesuatu dengan standar 'pokoknya beres' dan 'pokoknya semua masuk lemari', kami-kami para perempuan senewen, karena 'Iya sih, beres, tapi kudunya nggak gitu deh....' #dzig

BTW, Sebagai selingan; ini dia ada sebagian dari pekerjaan domestik yang sering bikin kami senewen (tapi pas kami bahas, kami malah ketawa-ketawa).

(1) Seprai dan sarung bantal nggak matching.
(2) Tempat tidur nggak diberesin sampai siang
(3) Anak belum mandi sampai lewat jam 9
(4) Penataan pakaian yang tidak sesuai dengan managemen lemari saya, karena ini bikin saya susah nyari pakaian.
(5) Ngambil pakaian ditarik, yang bikin tumpukan di lemari ambrol.
(6) Mencuci pakaian nggak dipisah pakaian terang dan gelap dulu.
(7) Baju-baju sekali pakai yang digantung, padahal dipakai lagi juga enggak.
(8) Makanan sisa hari itu yang tinggal seuprit, tinggal dimakan aja habis, tapi disimpen dengan niat 'dimakan besok pas sarapan' tapi sampai berhari-hari ada di lemari es.
(9) Cap sikat gigi yang nggak dipasang lagi seusai sikat gigi.
(10) Pasta gigi yang nggak ditutup lagi setelah pakai.

Remeh yes?

Anyway, kebiasaan merumitkan hal sepele seperti ini terus terang membuat saya stress juga, literally. Saya sampai di satu kondisi di mana saya bad mood melulu, susah tidur dan sakit kepala.

Nggak sehat banget ini sih. Untuk memperbaiki hal ini, akhirnya saya melakukan beberapa hal, antara lain: mengenyahkan segala rasa bersalah yang ada dalam otak saya dengan pemikiran bahwa saya juga kerja. Jadi nggak apa-apa suami jadi double sibuk kerja dan ngurusin urusan rumah tangga. Kami sama-sama double sibuk. Adil. Nggak ada yang modyar sendirian, modyarnya bareng-bareng. Kami adalah pasangan sehati.  HAHAHA!

Lalu, tindakan tambahan untuk menjaga kewarasan adalah berusaha menutup mata saya dengan segala ketidaksesuaian standar mau pun metode yang dilakukan partner. Bodo amatlah. Selama rumah masih layak huni, bersih, semua fungsi alat-alat rumah tangga berjalan baik, tidak kekurangan makanan, kami masih bisa ketawa-ketawa, saya anggap semua baik-baik saja.  Gak apalah, rumah berantakan sikit. Itu tandanya ada yang hidup di sana.

Gitu buibu. Jadi, ibu-ibu punya masalah yang sama soal urusan domestic? Share yuk! 

Nah, sepertinya yang sudah disebut do awal tulisan ini, untuk edisi Maret, #Modyarhood dapat 3 sponsor hadiah buat 3 ibu-ibu yang ikutan curcol dengan tagar #Modyarhood.

Syaratnya?

1. Tulis blog post dengan tema ini di blog buibuk.
2. Posting foto yang ngasih URL postingan buibuk dan tag/mention Kami di Instagram. Jangan lupa beri tagar #Modyarhood
3. Tinggalkan komen dengan tautan ke posting buibuk di blog saya dan Puty
4. Deadline tanggal 26 Maret 2018 ya?

Berikut ini profile dari sponsor Kami bulan Maret.

Kawung Living

Kawung Living adalah brand home living dan lifestyle yang dimulai di tahun 2014. Produk-produk kami yang colorful bertujuan untuk memberikan warna di keseharian dan menyebarkan banyak kebahagiaan. Selain rutin mengeluarkan koleksi baru setiap tahunnya, Kawung Living juga menyediakan service custom order sehingga kamu bisa berkreasi dan membuat barang-barang yang lebih personal.

Produk Kawung Living dapat ditemukan melalui website kami www.kawungliving.com, social media @kawungliving, atau stockist online (Dekoruma, LIVAZA, Line Shopping,Shopee) dan offline (The Goods Dept & The Goods Supply).

Kenarsa

Kenarsa memperindah dan menambah kenyamanan ruanganmu, hadiah spesial untuk orang kesayangan yang bisa kalian buat lebih personal juga jadi cinderamata yang akan selalu dikenang. Bisa ditemui melalui akun IG @bykenarsa.

Sunkrisps

SUNKRISPS focus is helping urban people to eat vegetables easily and tasty, by serving the finest quality of healthy vegetable-based snacks to customers.

Sunkrisps always ensures the vegetables are grown organically and always processed on the same day with delivery, with high standard and procedures in Sunkrisps production facility in Bogor, West Java. All of Sunkrisps products are Gluten-Free and Vegan friendly. Through Sunkrisps, there is a pair of goodness and benefits. Sunkrisps’ product quality is very compatible to its slogan “When Veggie becomes Tasty”. Kale is just a beginning of vegetable-based snacks from Sunkrisps.

Senin, Februari 12, 2018

#Modyarhood Kencan Sebelum Vs Sesudah Punya Anak


.....banyak suami atau istri yang sibuk berupaya menjadi orang tua yang terbaik, tapi mengesampingkan diri mereka untuk menjadi pasangan yang baik. Mereka selalu berusaha terbaik untuk anak, tapi mereka berhenti berusaha menjadi yang terbaik buat pasangan mereka. - Aurelia Carisa


Ya,ya,ya, sudah waktunya #modyarhood lagi. Jangan bosen yak? Buat yang ngikutin blog saya , tentu tahu kalau #modyarhood ini adalah blogging project saya dengan Puty, si teteh blogger istiqomah.

Istilah blogger istiqomah, merujuk ke blogger-blogger yang konsisten ngeblog sejak zaman dahulu. Sumber istilah ini, ya Puty, lah! :))

Di project ini, saya dan Puty bakal posting tulisan dengan tema tertentu, yang tentunya seputar motherhood. Harapan kami kemarin-kemarin sih, bakal ada blogger mamak-mamak lain yang ikutan ngeblog dengan tema yang sama. BTW, tema doang lho yang sama, kalau sudut pandang atau mau bahas apa sih, dibebaskan berdasarkan kreativitas masing-masing. Oh iya, baca juga posting Modyarhood dengan tema yang sudah-sudah di sini

Nah, kabar gembiranya untuk sekarang adalah : #modyarhood bulan ini berhadiah!

Ini hadiahnya!

Abaikan sepatu yang kefoto di sebelah kiri :)))


Syaratnya ada di akhir posting ini ya, Buibu! :)